Jumat, 15 Juni 2012

Selamat Jalan, Guru dan Sahabatku

Makam Al-Marhum Ust. Multazam

Hp berdering panggilan masuk dari salah seorang teman langsung saya angkat…..antum ada acara besok tanyanya saya jawab tidak ada, kalau besok bisa temani saya gak ke Barru, tanpa berfikir panjang sayapun meng iyakan…hem Barru I Am Coming
Sobat berikut goresan pena perjalanan saya ke Barru…
Tujuan ke Barru kali ini bermaksud berkunjung ke rumah salah satu teman, beliau adalah kakak angkatan saya di pondok beliau juga guru saya, sekitar 3 periode diatas saya, namanya MULTAZAM, sosok yang periang, penuh canda dalam kesehariannya, satu cirri yang khas pada beliau adalah kecamatanya yang tebalnya, saya sendiri uda lupa itu minus berapa, ada satu waktu ketika masih dipondok ketika saat bersama beliau di panitia penamatan sekolah sempat satu bagian di Publikasi, saat berangkat mandi tanpa sengaja saya menjatuhkan kecamatanya di tempat ganti baju,saya kira kecamata itu hancur berkeping-keping, ternyata dugaan saya meleset, kecamata yang jatuh dilantai itu tidak lecet sedikit pun, ini disebabkan karena tebalnya kecamata tersebut dan ternyata dia bukan dari kaca…maaf saya sendiri juga tidak tahu itu dari bahan apa,
Dalam penuturannya beliau telah memakai kecamata sejak SD. Jadi ketika kejadian sekitar 10 tahunan lebih beliau telah memakai kecamata tersebut, namun dengan keterbatasan penglihatannya itu tidak membuatnya patah semangat untuk menghafal Al-Qur’an meskipun kadang saya perhatikan Al-Qur’an mesti dia angkat dengan jarak satu jengkal dari matanya, ini demi memudahkan beliau membaca Al-Qur’an.
Mengingat kisah bersama beliau tidaklah sulita bagi saya, meski itu telah berlalu beberapa tahuan sosok yang mudah bergaul dengan teman-teman dan juniornya menjadikannya familiar di tengah santri, beliau juga menjadi corong perkembangan bahasa di pondok tercinta, kepiawaiannya berbahasa Inggris tidaklah pernah diragukan, saya masih ingat ketika itu beliau memboyong piala bergilir lomba Pidato Bahasa Inggris,yang saat ini piala tersebut masih tersimpan rapi di kantor Pesantren,  ini pulalah yang menjadikannya sebagai bagian bahasa baik di organisasi santri hingga Pembina bahasa dimasa pengabdiannya.
Limadza-limadza tuhibbuni…… adalah penggalan lagu yang sampai saat ini masih terekam sempurna di memoriku lagu gubahan yang kocak dan lucu tersebut beliau dendangkan bersama group band bentukannya di acara Panggung Gembira Kelas Enam angkatannya.
Kini kenangan itu tinggal cerita penghubung rindu dengan beliau, kini ia telah beranjak meninggalkan kita ketempat peristirahatan, tempat yang jua kan menjadi tujuan kita juga,
Makassar Pkl 09.00…
Rencana semula akan star Pkl 07.30 mengingat jarak yang jauh, namun karena hujan mengguyur Makassar di pagi hari akhirnya kami undur ke Pkl 09 lewat, setelah janjian ketemu di depan Universitas 45, kami melaju membelah kemacatan kota Makassar, konon kota yang selalu mendengung-dengungkan akan menjadi kota dunia…yach semoga aja terwujud.

Pangkep Pkl 12.30
Lantunan ayat suci Alqur’an mengiringi perjalanan kami lantunan Al-Qur’an itu terdengar bersahut-sahutan dari setiap mesjid yang kami lewati, ini menandakan waktu duhur sesaat lagi akan tiba, kamipun singgah di salahsatu mesjid yang tepat berada dipinggir jalan poros Pangkep-Barru, mesjid yang sederhana namun cukup terawat dengan baik, setelah menunaikan Sholat duhur dan sedikit merebahkan badan demi menghilangkan penat, kamipun kembali melanjutkan perjalanan,
Sekita setengah jam perjalanan, kami memutuskan untuk mengisi lambung tengah, yang dari pagi belum terisi apa-apa. Setelah beberapa kali memilih warung makan, kami menjatuhkan pilihan di warung makan yang tepat satu areal dengan Pertamina, dengan menu mie siram campur telur, serta suguhan gogoso menjadi santapan siang yang menggugah selera…..

Barru Pkl 13.30
Pemadangan pinggir laut menyambut kedatangan kami di Kab. Barru, gerbang bertuliskan selamat datang di Kab. Barru juga turut menyambut, tebing tinggi disisi kanan yang di poles dengan tulisan Kab. Barru menambah apik dan mempesonanya Kabupaten yang banyak melahirkan Ulama besar ini.
Dari alamat yang tertera di kertas sebentar lagi kami akan tiba di desa yang kami tuju, desa buttue, jembatan panjang sebagai tanda utama Alamat yang diberikan telah kami lewati, biar gak kesasar kami sempat berhenti beberapa kali untuk menanyakan alamat…diujung jembatan kami bertanya pada anak usia SMP, namun justru menimbulkan keraguan bagi kami, karena alamat yang kami tanyakan sudah kami lewati pungkas anak tadi, hemm…untuk informasi yang lebih akurat kamipun berjalan beberapa meter menemui wargab yang sedang bercengkerama di bawah kolom rumah….di depan lagi dek pas diperempatan ambil kiri….hem lega rasanya..hehehehe hamper ajha kesasar dengan Alamat Palsu hheheh (ayu tingting).
Sekitar 20 menit melewati jalan tersebut kamipun sampai di desa buttue, untuk meyakinkan lagi kamipun singgah bertanya, kali ini dengan kakek-kakek dan nenek-nenek yang beristirahat di rumah ronda….pak tabe mau nanya desa buttue dimana yach….rumahnya pak imam?....uda dekat di depan pas ada mesjid. Didepan mesjid itulah rumahnya pak imam…oh yach kebetulan rumah yang kami tuju ini bapaknya juga menjabat sebagai Imam Desa, didepan mesjid kami kembali bertanya dengan seorang pengajar TK/TPA bu… rumah pak imam dimana…? Oh rumahnya kelewatan, rumahnya pas dekat mobil yang parker itu…katanya sambil menunjuk…hahahahaha…kali ini lagi-lagi dapat alamat palsu dari sang Kakek dan nenek…

Barru @rumah
Setelah memarkir motor dan sedikit peregangan kamipun naik kerumah, setelah beberapa kali salam, barulah ada balsan dari dalam rumah, ternyata adalah Ayahnya saat kami datang beliau lagi Istirahat siang di ruang tengah
Mari masuk….sambutnya menyalami kami didepan pintu, umurnya kira-kira 70 an, rambutnyapun juga sudah memutih. Namun langkah dan suaranya masih sempurna, ini dibuktikan dengan masih kuatnya berjalan kaki kemsjid serta menjadi imam sholat lima waktu.
Dari mana dek…ucapnya memulai percakapan siang itu, kami dari Makassar Pak, temannya almarhum Multazam di Pesantren, oh….sambil memanggut-manggutkan kepalanya, sakitnya Mulatazam itu saya juga gak tau, setelah operasi matanya selesai dan al-hamdulillah sembuh, kembali muncul penyakitnya yang lain, dia mengeluhkan sakit diperutnya, kata dokter di sakit lever, namun selain itu banyak penyakitnya yang lain dan tiba-tiba muncul, padahal sebelumnya gak pernah ia keluhkan…ucapnya sambil beberapa kali menerawang dan memandangi foto-foto yang di dinding.
  
 Bersambung…   
  

Senin, 07 Mei 2012

Jelajah Eksotisme Pulau Kodingareng


Liburan kali ini menjadi hal yang istimewa, gimana tidak sejak jatuh cinta pada pandangan pertama, itu seakan membuat aku selalu terbawa harapan padanya, agar kelak bisa jumpa lagi, keindahannya keelokannya seakan mampu merontokkan keluh dan kesah ini, menghilangkan gundah dan galau ini……
Hemmmm…..itulah kisah romantika saya dengan PULAU KODINGARENG, yang kali kedua ini Allah SWT, menakdirkan saya tuk bersua kembali, moment liburan hari paska tgl 6 April sampai ahad tgl 8 menjadi moment indah. Setelah mematangkan persiapan hari yang dinanti-nanti pun tiba, dengan menyewa mobil angkut alias pete-pete dengan biaya 40 ribu rupiah,akhirnya menghantar kami menuju pelabuhan kayu bangkoa, pelabuhan ini terletak dipinggiran kota Makassar jajaran losari diapit dengan Makassar Golden Hotel dan Hotel Pantai Gapura, hari ini kami star lebih awal berhubung karena hari jumat jadi jadwal kapal dimajukan ke pukul 10.00, yang biasanya pada hari biasa pada jam 11.00.
Dermaga Kayu Bangkoa

Pelabuhan kayu bangkoa merupakan pelabuhan yang super padat karena ia merupakan pelabuhan kapal dengan tujuan pulau-pulau luar Makassar, diantaranya pulau samalona kodingareng keke, barang lompo, barang caddi, yang masingmasing pulau memiliki nilai tawar tersendiri sehingga ia pun menjadi destinasi wisata tersendiri di kota Makassar, maka wajar kalau pelabuhan kayu bangkoa ramai, dalam sejarahnya kata kayu bangkoa diambil dari bahasa Makassar yang artinya kayu bakau, yang konon katanya dulu pelabuhan ini dijadikan pusat pelabuhan kayu-kayu bakau…(heheheh info ini saya dapat dari teman-teman kompasiana Makassar saat road show Film N5M) 
Tak lama kemudian kapal pelan-pelan meninggalkan kota Makassar, kembali menyuguhkan pemandangan Indah view kota Makassar dari laut, deretan gedung-gedung tinggi serta anjungan losari seakan mengokohkan Makassar menuju kota dunia…Amieeennn..
Oh iya untuk ongkos perahu kita dikenakan biaya 10.000 rupiah, ini adalah tarif yang berlaku untuk semua penumpang, perjalanan  ditempuh kurang lebih dari 1 jam, perahu tumpangan ini lumayan besar, dapt memuat sampai 100 orang plus dengan barang-barang penumpang.
Saya bersama empat teman laki-laki memilih tempat duduk di buritan kapal, sedangkan akhwatnya lebih memilih duduk di deretan kursi berbaur dengan penumpang lainnya, untuk penumpang yang tidak mendaptkan tempat duduk menggelar tikar disela-sela tempat duduk bahkan ada yang tidur-tiduran  
Di Atas Perahu Menuju Pulau Kodingareng

Perjalanan ini kami tempuh satu jam denga suasana laut yang tenang serta langit yang cerah, ditemani dengan buku bacaan serta cemilan, seakan perjalanan itu menjadi singkat.
Tiba dipelabuhan pulau kodingareng kami langsung kepenginapan, sebuah vila yang bakalan menjajdi base camp kami selama disini, , rumah yang dicat kuning dengan desain rumah panggung,  menjadi cirri khasnya dengan posisi menghadap ke laut, dimana disisi kiri dan kanannya di design untuk tempat makan dengan jejeran kursi dan meja.
Villa tepat menghadap Pantai


Dermaga yang bersambung dengan Villa
Pulau Kodingareng Lompo berada di Kelurahan Kodingareng, Kecamatan Ujung Tanah, yang berjarak kurang lebih 15 km dari Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Bentuknya pulau ini memanjang dari Utara ke Selatan, pada sisi Selatan tedapat dataran yang memanjang menjorok keluar (spit), pulau ini mempunyai luas 14 Ha. Pada perairan sebelah Timur, Utara dan Selatan memiliki kedalaman diatas 20 m dengan jarak antara ± 0,2 mil dari pantai, sedangkan perairan disebelah Barat pada jarak ± 4,5 mil dari pantai mempunyai kedalaman 20 m.
Rombongan disambut dengan hidangan makan siang, yang telah tersaji rapi diatas meja bundar di samping rumah, santapan siang sungguh menggoda perut yang keroncongan, dengan  ramah empunya menawarkan makan, “makan dulu dek sebelum sholat jumat” tanpa basa-basi kami segera menuju meja makan.
Menikmati Suguhan Makan Siang
Lahap dengan Ikan laut

Karena hari jumat jadi kami tidak berlama-lama dirumah setelah makan dan membereskan tas dikamar kami bergegas menuju mesjid yang kurang lebih dengan jarak setengah kilo denga berjalan kaki, sungguh menakjubkan ditengah pulau ini sebuah mesjid yang dibangun dengan megah dan memiliki 2 lantai dengan luas kurang lebih 20X30 meter, dari interiornya kelihatanm mesjid ini dalam tahap renovasi, dengan mimbar kayu ukir dan jam duduk ukir yang megah turut menghiasi mesjid tersebut.
Ada hal yang luar biasa lagi dipulau ini , saya heran menyaksikan jumlah jamaah mesjid yang banyak dalam sholat 5 waktunya, yang selama ini belum pernah saya saksikan. Dengan ukuran mesjid yang besar, jamaah sholat 5 waktu mencapai 5-6 shaf, sebagai mahasiswa di kota Makassar hal yang demikian ini belumlah pernah saya lihat di mesjid-mesjid meskipun itu mesjid besar dan dingah pemukiman, sungguh luar biasa, padahal di pulau ini ada 2 mesjid yang difungsikan sholat jumat dan sholat 5 waktu.
Dengan rasa penasaran sayapun mengamati kira-kira factor apa yang menjadi penyebabnya sehingga tingginya kesadaran masayarakat untuk sholat jamaah, ternyata ini buah dari kerja keras dakwah teman-teman dari jamaah tabligh, yang rela berkeliling kampong setiap malamnya mengajak masyarakat untuk sholat di mesjid, sekedar mengingatkan jamaah Tabligh adalah sebuah organisasi Islam yang konsen menyeruh kepada yang ma’ruf, meskipun juga sering dicela oleh masyarakat karena ia bermukim di mesjid dan dianggap mengotori mesjid, namun lepas dari itu kelebihan dan kekurangannya sungguh ia bagian dari kelompok Islam yang tetap kita harapkan kiprahnya saat ini, di tengah tingkah acuh masyarakat  dengan kehidupan masyarakat disekelilingnya, dengan prinsip masa bodoh dengan saudaranya.
Selepas Berenang

Sore harinya kami langsung nyebur ke laut sambil menikmati udara sore dan langit yang cerah, menyatu dengan pantulan matahri serta kilauan pasir putih nan elok, sungguh nikmat yang luar biasa, karunia Allah, laut yang luas serta aneka ragam makhluk yang hidup di dalamnya menjadikan Indonesia sebagai Negara maritim.
Pagi harinya kembali disuguhi pemandangan indah, dengan sun rise dari arah kota Makassar, sang surya muncul dengan cahayanya yang terang menyinari jagat raya, kali ini sun rise kami nikmati di dermaga dengan hangatnya teh dan pisang goreng, yang tentunya didahului dengan nyebur ke laut, menikmati hangatnyan air laut di pagi hari.
Pukul 09.30 kami ditawarin naik perahu ke pasir putih yang terletak ½ jam dari pulau, dengan menggunakan perahu kecil, hemmm luar bias menguji adrenalin dengan, air laut yang surut menemani perjalanan kami, pemandangan dasar laut yang indah sungguh terlihat dengan jelas
Luar Biasa Hamparan pasir Putih nan Indah

Liburan 2 hari di pulau ini takkan mampu menjelajahi segala keindahannya, menikmati semilirnya angin sore dengan riuh rendah celoteh anak-anak pantai dan anaeka warna laying-layang sang nelayan yang mengisi kekosongan, sungguh suguhan nuansa indah yang takkan terlupakan…..dari kejauhan sayup-sayup kedengaran suara music dangdut heheheheh dari perahu nelayan yang berlabuh agak di tengah, menyatu dengan irama ombak laut.
Ahad Pkl 07.00. kami harus pamit menuju Makassar, berat rasanya langkah ini meninggalkan pulau dengan ribuan pengalaman
Pelan-pelan kapal bergerak meninggalkan dermaga…….dan akhirnya lenyap dari pandangan mata, berganti dengan pemandangan kota Makassar
Kodingareng kita berpisah tuk bersua kembali…..
….eh ternyata doa itu terkabul 3 minggu setelahnya kami kesana lagi, asyikkkk

Selasa, 03 April 2012

Kujatuhkan Pilihan itu Pada KOMPASIANABLOGSHOP N5M

Man Jadda Wa Jada

Disela-sela pelatihan yang diadakan Dinas Biro Mental dan Spiritual di Hotel Grand Palace, saya sempatkan diri membuka akun FB, mata saya langsung tertuju pada pada salah satu tautan teman di FB tentang kegiatan  Kompasiana dan N5M. wow langsung ajha deh saya klik dan daftar, ternyata pendaftar saat itu belum sampai 100san orang, sesaat setelah mendaftar dan melihat nama saya tertera, tentu saja hati ini senang luar biasa, bagaimana tidak, ini merupakan kesempatan emas bagi saya alias balas dendam tuh akibat ketidak ikutan saya pada acara blogger kompasiana pada tahun lalu
                Setelah saya meyakini ikut sebagai peserta masalah lain malah muncul sehari setelahnya, saya diberi amanahi sebagai MC Acara Ranking 1 di salah satu sekolah Islam Terbesar di Makassar yang melibatkan seluruh sekolah di Makassar dan Gowa, untuk menolak pun aku tak biasa, gimana tidak itu datangnya dari kantor, sejak pemberitahuan utnuk menjadi MC, saya selalu berfikir untuk mencari alas an kira-kira apa yang bisa membuat saya bisa bebas dari MC, minus satu ahri setelah berjibaku dengan Panitia Asia Pacific Freedom for Palestina, saya kembali melakukan lobi-lobi ke kantor agar saya digantikan jadi MC, hemmmmmm….pasti demi menghadiri acara Kompasiana dan dan mendengarkan langsung materi terbaik dari kang Iskandar, Mas Pepih dan menimba ilmu langsung dari penulis novel negri 5 Menara,
                Setelah melakukan lobi-lobi jitu agar ada yang bisa menggantikan saya akhirnya berhasil juga, wowwww sensasi plong , setelah meyakinkan bahwa pengganti saya bisa saya jamin, rasanya dunia ini milik saya…heheheheheh, seakan kegiatan kompasiana dan bertemu denga ratusan blogger kompasiana uda terbayang dimata.
                Meski badan masih terasa penat setelah seharian diporsir dalam kegiatan Asia Pacific Freedom for Palestina, malamnya saya gunakan sebaik-baiknya untuk istirahat, sehingga saya pun gak sempat mengantar tamu dari Jakarta ke bandara subuh harinya, akibat masih ngorok J.
                Sekitar pukul 8 saya pun uda berkemas-kemas, menyiapkan segalnya, meskipun agak telat sedikit nih datanggnya, tapi tetap semangatnya 45, tiba digedung BI Makassar saya langsung diarahkan sama pak satpam menuju lantai 4, melalui lift disebelah belakang, saat tiba di lantai 4 disambut dengan registrasi, setelah mencari nama dan menerima goddy bag, eh ternyata tuh disuruh bubuhin tanda tangan di stand banner, ternyata uda hamper full itu tandanya bahwa peserta di dalam pasti uda banyak. Setelah liat sana-sini nyari kursi kosong akhirnya ketemu juga meja paling depan sebelah kiri
                Saat itu materi pertama telah berjalan dibawakan oleh mas iskandar, mulai dari pengertian artikel sampai scientific method, dilanjutkan dengan Tanya jawab saya pun mendapat kesempatan pertama bertanya. Materi selanjutnya dibawakan kang pepih founder Kompasiana, yang membawakan materi Naratif, disusul dengan materi dari kang Fuadi merupakan materi penutup dan yang paling ditunggu-tunggu
                Dalam pemaparannya kang fuadi mengawali materinya dengan menanyakan mengapa kita mmenulis, apa yang mendasari kita sehingga kita memiliki motivasi dasar dalam menulis, disela-sela acara diisi dengan ice breaking,
                Dipenghujung acara diisi dengan fot bareng, kali ini fotonya anarkis…..heheheheh  semuanya pada mau maju dan dekat kang fuadi, biasalah ini merupakan moment yang langkah. Acara ini pun ditutup dengan harapan bahwa kebersamaan dalam keluarga besar Kompasian selalu bisa terbina dan menjadi motivasi besar bagi semuanya, sehingga sipapun yang hadir di kompasiana dapat menjadi inspirator di muka bumi ini, sehingga kalimat-kalimat indah dan penuh makna makin menjamur sebagai bahan bacaan yang indah tuk dikenang, karena itu yang menjadikan kita ABADI setelah perginya jasad ini.
Salam kompasiana
                  Makassar 31 Maret 2012
                 

Film N5M "memori itu kembali lagi"

Kehebohan buku negeri lima menara, tidak serta merta membuat saya membaca novelnya, yah biasa saya memang orang yang tidak hobi membaca novel, apalagi yang tebal-tebal melihatnya saja sudah sesak nafas J. Saya pun cuman mendengar dari mulut kemulut kalau buku tersebut menceritakan kisah anak yang sekolah di gontor ponorogo, meski bagi saya nama gontor adalah nama yang tidak asing bagi saya, karena saya juga merupakan alumni pesantren di salah satu daerah di Kab. Bone Kajuara yang banyak mengambil kurikulum gontor, begitu juga dengan guru-guru saya yang sejak kelas satu sampai kelas 3 diajari oleh alumni gontor, dan sampai saat ini displinnya pun tetap dilaksankan.
                Satu hal yang membuat saya kagum adalah bahwa dari tangan seorang santri kembali membuktikan bahwa pesantren itu bukan tempatnya orang yang hanya tau sarung, peci Al-Quran saja. Namun jauh dari itu di dalamnya ada pembinaan, nilai dan hikmah yang terkandung.
                Lain baca novel lain pula soal nonton dengan nonton film, itulah yang membuat saya antusias ingin menyaksikan film Negri 5 Menara yang katanya akan segera tayang, film yang diadaptasi dari buku negri 5 menara, sebagai film maniak ini adalah hal yang paling saya tunggu, meski saya gak pernah membaca bukunya justru itu yang memberikan rasa penasaran yang besar bagi saya.
                Tgl 3 maret saya mengazamkan diri untuk menonton film tersebut, meski jam tayangnya pukul 09.00 saya sudah berada di studio panakukang jam 08.00,khawatir gak kebagian tiket, setelah mengantri tiket, saya menyempatkan diri hunting buku gurunya manusia di gramedia sembari nuggu pkl 9.
                 Saat film mulai di putar, merinding rasanya, mengingat beberapa tahun lalu masa-masa yang saya lalui di pesantren tidak jauh berbeda dari apa yang ditayangkan. Kembali memori-memori lama yang pernah ada dan menghiasi hari-hari selama 8 tahun itu seakan kembali terputar seiring dengan alur cerita film N5M yang sedang tayang.
                Nasihat seorang Ibu yang menginginkan anaknya menimba ilmu disekolah Islam juga kembali mengingatkan saya pada sosok ibu yang selalu merindukan agar kelak anaknya itu bisa tampil ceramah, dan paham ilmu agama, meskipun dalm film N5M ada sosok ayah yang juga begitu bertanggungjawab, lain dengan saya yang sejak umur 9 tahun telah ditinggal oleh sang ayah.
                Masa-masa awal dan orientasi santripun kembali hadir, bagaimana sosok anak yang polos harus belajar mandiri, mengurus semua keperluannya sendiri, tanpa bantuan dari sosok ibu dan ayah, yang ketika dirumah selalu kita jadikan tumpuan dan tempat untuk bermanja dengan seribu permintaan, namun di pondok ini hilang, demi sebuah nama kemandirian dan ketegaran.
                Firman Allah yang artinya sesungguhnya kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling kenal mengenal, menggambarkan pergaulan yang ada di pesantren lihat saja sosok yang ada di film N5M anak yang dating dari berbagai daerah, suku dan bahasa, serta logat yang berbeda bersatu dengan harmoni kebersamaan tanpa ada sekat-sekat dan kasta.
                Kembali hati ini terenyuh disaat sosok anak (baso) yang selalu memiliki motivasi kuat tuk menghafal harus pergi meninggalkan teman-temannya, karena dan wujud pengabdian seorang cucu kepada neneknya yang sakit, ini pulalah yang banyak menimpa teman-teman waktu sekolah, dimana sebagian harus rela menaggalkan title santrinya untuk memenuhi panggilan keluarga, memang sungguh berat perpisahan itu, siapapaun takkan pernah menginginkannya, suka dan duka yang telah dilewati bersama takkan mudah tuk dilepas, memori kebersamaan dan atas nama ukhuwah seakan meleburkan hati-hati kita, begitupulalah yang selalu diajarkan kepada kita bahwa sebgai seorang mukmin kita ini dalam satu tubuh, yang mana ketika tubuh yang lain merasakan sakit maka tubuh yang lain pun iktu merasa sakit, demikian pulalah yang terjadi dengan Shohibul menara, sehingga air mata keharuann harus mengiringi kepergian sosok BASO yang penuh isnpirasi.
                lain sisi pula yang terjadi dengan alif sosok anak yang tetap memiliki niat  tuk sekolah di ITB, selalu memiliki niat tuk keluar pondok alias ala dawam, merupaka salah satu penyakit besar bagi santri, ini kembali memberikan pelajaran besar bagi saya yang pernah di pondok, melalui kisah alif ini, saya pun kembali mengucapkan syukur bahwa saya bangga sebagai santri dan mampu selesai, dengan artian saya mampu melalui ribuan rintangan dan tantangan, karena itulah kelak kan membedakan kita di depan orang lain, memang sebuah teori bahwa anak yang bisa bertahan di pondok pesantren bukanlah anak yang cerdas namun sosok yang mampu BERSABAR.
                Pepatah man jadda wajada memang merupakan sihiran awal bagi stiap santri, karena itu ia merupakan Mahfudzhot urutan pertama yang kita dapatkan, tentu ini dimaksudkan agar kita mengetahui bahwa hidup ini penuh kesungguhan, dan hanya yang bersungguh-sungguhlah yang akan mendapatkannya,.
                N5M, kau inspirasi dunia, inspirasi generasi muda, yang hendak memberikan pesan moral bahwa pesantren itu bukanlah bengkel yang selama ini, orang tua hanya akan memasukkan anaknya ketika ia sudah tidak bisa diatur di rumah, ini merupakan kesalahan besar, maka benarlah kata-kata yang mengatakan “jika anda mnenginginkan santan yang baik, maka berikanlah saya kelapa-kelapa pilihan” .
                Semoga dunia ini dipenuhi mantra man jadda wajada, sehingga semuanya dimulai dengan kesungguhan dan berakhir dengan husnul khatimah. Karena kelak itulah yang membedakan kita dimata Allah dan manusi.bahwa kita pernah hadir dengan proses penempaan yang kuat, dan bangsa ini membutuhkan orang-orang tegar tegas dalam setiap urusan,
                Damai indonesiaku, man jadda wajada kaulah inspirasiqu   
Makassar 1 April 2012

Kamis, 19 Januari 2012

NEGERI “AUTO PILOT” SAATNYA RAKYAT MEMIMPIN

Picture

Polemik tentang negara autopilot akhir-akhir ini kembali menyeruak, seiring dengan senternya kasus kasus korupsi yang seakan tak pernah habisnya, ini juga menjadi bukti bahwa negara kita ini memang dalam keadaan meradang, lihat saja perilaku elit yang tak tau malu menggorogoti uang rakyat, untuk kepentingannya

                Opini negara ini sebagai negara outopilot tidaklah berlebihan, negara yang berpenduduk 295 juta sesuai data yang dirili oleh BPS, yang mana angka masyarakat miskinnya mencapai 29,89 juta, ini merupakan angka fantastik yang menandakan belum adanya tanda-tanda peningkatan taraf hidup masyarakat.

                Terlepas dari klaim pemerintah akan beberapa keberhasilan yang dia dapat tidak akan menjadi indikator perubahan bagi masyarakat yang masih merasakan susahnya bertahan hidup di negara gema ripa loh jinawi ini, negara yang hanya memperkaya para elit dan pemangku jabatan semata, meskipun para pembantu SBY ramai-ramai menuding opini negara autopilot sebagai titipan orang yang haus akan kekuasaan dan mencoba membuat masarakat kebingungan.

                Istilah negara autopilot atau negara yang berjalan otomatis seakan menjadi titik kulminasi dari kekesalan masyarakat terhadap elit pemerintah, sehingga keberadaan dan upaya pemerintah dengan program pemberdayaan masarakat tidaklah dirasakan dampaknya bagi masyarakat, masyarakat hanya menjadi bahan exploitasi penguasa semata, Triliunan APBN yang dibahas tak jua memberikan dampak signifikan.

                Sandiwara elit dan persekongkolan keji antara legislatif, yudikatif dan eksekutif semakin menggurita, lihatlah ruangan banggar yang menelan biaya 20 milyar, sungguh angka yang fantastik untuk sebuah ruangan rapat, kursinya dengan nilai 20 juta serta sistem oudio yang serba modern tidaklah mencerminkan gaya hidup sederhana dan penghematan, sebagai contoh untuk masayarakat. Coba berapa bangunan sekolah yang bisa dihasilakan dari dana yang 20 milyar itu, namun itulah namanya kepentingan, rasa kemanusiaan dan empati itu seakan mengalahkan semuanya, gelap mata dan hatinya, sehingga apa yang dia lakukan semuanya dengan dalih untuk meningkatkan kinerja.

                Roda pemerintahan hari ini seakan berjalan apa adanya, semuanya berjalan hanya untuk kepentingan individu, perikalu elit yang hanya mengamankan kursi dan melanggengkan kekuasaannya seakan tak memberikan sisa waktu untuk mensejahterahkan rakyatnya, rakyat yang ia telah janji dengan seribu janji, demi meraih kursi jabatan.

                Salahsatu penyebab negara autopilot ini adalah kinerja para  anggota DPR yang kian jauh dari amanah konstituen sebagai wakil rakyat, konstituen hanya menjadi objek kepentingan untuk mengucurkan anggaran. Wahai... para elit, Negara ini akan tetap ada dan eksis karena cinta yang melekat di hati masyarakat, masyarakat yang siap mati demi membela kesatuan NKRI dari ketertindasan para penguasa predator, maka wajarlah negara ini tetap jalan walau tanpa pemerintah.

Makassar Jum’at 20 januari 2012

Selasa, 20 Desember 2011

Ketika "JILBAB" menjadi penutup MALU


            Ada satu pemandangan unik yang sering kita lihat saat ini, yach masih seputar kelakuan para koruptor kita, namun kali ini yang saya coba angkat adalah koruptor dari kalangan perempuan, sungguh disayangkan sosok ibu yang kita kenal lemah lembut didepan anak dan suaminya, ternyata juga menyimpan tabiat bengis sebagai pengumpul harta haram.
            Perempuan adalah sosok yang acap kali kita perbincangkan sebagai manusia yang penuh harapan karena ia menjadi Ibu dari anak-anak kita, juga tentunya sebagai istri yang akan mendampingi suaminya, sosok ibu yang kita harapkan menjadi madrasah pertama dalam kehidupan keluarga kita, madrasah bagi anak-anak kita yang selalu kita idamkan menjadi generasi penerus keluarga, generasi yang tentunya bisa hadir lebih baik dari bapak dan ibunya, namun ketika kita dipertontonkan drama penangkapan sosok Ibu yang ternyata melakukan tipu muslihat dengan jalan mengorupsi uang rakyat, maka pupuslah harapan itu
            Yach tentu kita merasa risih, semestinya sebagai perempaun dia mampu menghadirkan naluri keibuannya ataupun sosoknya yang lemah lembut dengan lebih peka melihat realita dan keadaan anak bangsa kita yang hari ini masih jauh dari nilai kesejahteraan, namun itulah rangkaian peristiwa yang sering kita saksikan bersama akhir-akhir ini.
            Seiring ditangkapnya beberapa koruptor dari kalangan perempuan ini, ada satu gaya dan bentuk yang aneh, yang mana sebelumnya dia tidak lakukan, ketika mereka tertangkap mereka tiba-tiba menjadi religius dalam berbusana......tiba-tiba memakai jilbab yang rapi bahkan tergolong jilbab yang besar, lihata aja darnawati yang terseret kasus Kemeneketrans bahwan darnawati memakai cadar, tak lama kemuadian nunun pun juga ditangkap setelah sekian lama shooping di luar negri juga tiba-tiba memakai jilbab besar....hehehehhe
            Tentu jilbab yang dia gunakan tujuannya bukan untuk menutup aurat namun menutup urat malunya yang telah putus....heheheh. perilaku tersebut seakan memberikan stigma baru bahwa jilbab itu ngetrend ketika menjadi tersangka korupsi, jilbab yang sejatinya digunakan untuk menutup aurat sejak aqil baligh ternyata direduksi makna dan filosofi kewajibannya para bandit-bandit negara.
              Semoga saja kejadian ini dapat memberikan pelajaran besar bagi setiap komponent bangsa bahwa tutuplah aurat anda sebelum Allah membongkar dan membuka aib-aib kita, dan semoga wanita Indonesia mampu  merubah nasib bangsa dan negara ini dengan perilaku yang bermoral sehingga anak-anak calon generasi kita menjadi anak terdidik sejak dari rumah-rumah mereka dan tidak diracuni dengan makanan haram hasil usaha kotor dari ibunya.
Makassar 20 Desember 2011

Senin, 19 Desember 2011

Pejabat Bermental Korup

            Aneh memang negeri ini lihat saja, perilaku pejabatnya yang korup dan tak bermoral, uang yang semestinya untuk kesejahteraan rakyat, dia nikmati bersama keluarga dan koleganya, dalam teori kebutuhan memang batas kepuasan tak terbatas dan tak terukur, sehingga manusia serakah akan terus berusaha mengambil dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.
            Kiranya jika mereka mengetahui bahwa harta dan jabatan adalah titipan dari Allah semata, maka ia akan bekerja hanya mengharap ridho dari Allah dan tidak akan memakan harta haram yang selain dari haknya, lagian dia sebagai pejabat telah mendapatkan gaji dan tunjangan untuk keluarganya, maka selayaknya ia bersifat qona’ah (puas) atas apa yang direzkikan Allah kepadanya.
            Teori aji mumpung selalu saja menjadi senjata ampuh, mumpun sebagai bendahara, mumpun kerja di pajak, mumpun kerja di DPR, mumpun sebagai anggota banggar, yah tentunya mumpun bisa tentukan anggaran dan proyek, maka semuanya akan bisa dilakukan.
            Fenomena perilaku korup dinegara ini akan terus berlangsung ketika generasi hari ini tidak dibekali karakter kejujuran. Ketika kejujuran luntur dari seseorang maka tunggulah semuanya akan menjadi halal dimata mereka.
            Sistem yang diciptakan juga tidak mampu memberikan efek jerah (Hukum), maka selayaknya sekarang ini pemerintah memikirkan dengan serius upaya membuat pelaku koruptor di Negara ini menjadi jerah, ya salah satu opsi adalah memiskinkan mereka, dengan jalan menyita seluruh asset yang mereka miliki, agar mereka merasakan sungguh susahnya menjadi orang yang serba kekurangan.
            Namun ketika yang diharapkan membuat hukum juga adalah pelaku korup maka lihat saja salah satu contoh ketika keputusan MENKUMHAN tentang penghapusan remisi koruptor dan teroris mendapat perlawanan sengit dari Anggota dewan yang mana nota benenya adalah penghasil koruptor terbanyak, sungguh kelihatan belangnya maling teriak maling.
            Ajaran Islam tentang muroqobah yang bermakna bahwa kita sebagai ummat manusia khususnya orang Islam merasa bahwa ada yang mengawasi gerak-gerik dan perilaku kita dimana dan kapanpun kita berada, sehingga setiap ucapan dan perilaku kita akan didasari oleh landasan tuntunan agama kita.
            Hampir dari semua yang menjadi tersangka koruptor tesebut mendadak ataupun tiba-tiba SAKIT, ini juga menjadi salah satu keanehan di Negara ini, ketika hendak diperiksa ataupun ketika sudah dijebloskan kepenjara tiba-tiba semua penyakitnya kumat, dan menjadi alasan untuk menghindari pemeriksaan berwajib, irono memang manusia nyeleneh ini, setelah merapok uang Negara, pandai pulalah ia berpura-pura, mengelabui kita semua, lihat aja nunun yang katanya sakit lupa, lupa kapan dia membagikan uang…hahahahha…namun dia pasti ingat berapa jumlah cek yang ia sebarkan…hehehehe..dasar mental PERAMPOK
Makassar 18 desember 2011